sitesandsounds.org – Cuaca ekstrem melanda Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, pada Selasa siang. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Peristiwa ini menambah daftar bencana hidrometeorologis saat musim hujan mencapai puncaknya.
Air menggenangi permukiman warga di beberapa desa sejak sekitar pukul 12.30 WITA. Curah hujan tinggi menyebabkan sungai dan saluran drainase meluap. Kondisi tersebut memicu genangan yang cukup luas di beberapa titik rawan.
Berdasarkan data sementara Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB, banjir terjadi di empat kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Desa Kuta, Desa Pengembur, dan Desa Bangket Parak di Kecamatan Pujut. Selain itu, banjir juga melanda Desa Beleka di Kecamatan Janapria.
Genangan juga tercatat di Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur. Sementara itu, Desa Tanak Rarang di Kecamatan Praya Barat turut terdampak luapan air. Di kecamatan yang sama, tanah longsor dilaporkan terjadi di Desa Pandan Indah.
Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyampaikan laporan awal diterima sekitar pukul 12.30 WITA. Tim segera bergerak setelah menerima informasi dari aparat setempat.
“Sedangkan tanah longsor terjadi di Desa Pandan Indah, Kecamatan Praya Barat,” ujar Sadimin di Mataram. Ia menegaskan petugas masih mendata jumlah warga dan infrastruktur terdampak.
Menurut Sadimin, intensitas hujan yang tinggi meningkatkan debit air sungai secara cepat. Drainase yang tidak mampu menampung volume air memperparah genangan. Air kemudian masuk ke permukiman dan lahan warga.
Tim gabungan langsung turun ke lokasi terdampak. BPBD NTB mengerahkan personel bersama Tim Reaksi Cepat BPBD Lombok Tengah. Aparat kecamatan dan perangkat desa juga membantu proses evakuasi dan pendataan.
Petugas memprioritaskan keselamatan warga lanjut usia dan anak-anak. Mereka juga memantau kemungkinan kenaikan debit air susulan. Hingga laporan terakhir, banjir masih menggenangi beberapa wilayah.
BPBD NTB mengingatkan masyarakat agar tetap waspada. Sebagian besar wilayah NTB kini memasuki fase puncak musim hujan. Kondisi atmosfer mendukung terbentuknya awan hujan dalam beberapa hari ke depan.
Sadimin menyebut potensi hujan dengan intensitas tinggi masih mungkin terjadi. Ia mengacu pada prakiraan cuaca dasarian ketiga Februari 2026. Fase ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologis secara tiba-tiba.
“Masyarakat harus mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu angin kencang, banjir, dan tanah longsor,” katanya. Ia meminta warga rutin memantau informasi cuaca resmi. Langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini.
Secara geografis, Lombok Tengah memiliki beberapa daerah dengan kontur perbukitan dan aliran sungai musiman. Kombinasi lereng terjal dan curah hujan tinggi meningkatkan risiko longsor. Permukiman yang berada di bantaran sungai juga rentan terdampak luapan air.
Data kebencanaan menunjukkan bencana hidrometeorologis mendominasi kejadian di NTB setiap musim hujan. Faktor perubahan tata guna lahan turut memengaruhi tingkat kerentanan. Drainase yang tersumbat dan sedimentasi sungai memperbesar risiko banjir.
Baca juga: “Eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Dipecat”
Pemerintah daerah terus mengimbau warga menjaga kebersihan saluran air. Warga juga diminta tidak membuang sampah sembarangan. Langkah sederhana ini dapat mengurangi potensi genangan saat hujan lebat.
BPBD NTB menyiapkan peralatan darurat dan logistik jika kondisi memburuk. Petugas berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk memastikan respons cepat. Posko siaga juga disiagakan untuk menerima laporan warga.
Sejumlah warga memilih bertahan di rumah sambil memantau ketinggian air. Sebagian lainnya mengungsi sementara ke rumah kerabat yang lebih aman. Hingga kini belum ada laporan korban jiwa.
Pemerintah daerah meminta masyarakat tetap tenang namun siaga. Warga di daerah rawan longsor diminta menjauhi lereng yang retak atau jenuh air. Jika hujan deras berlangsung lama, evakuasi mandiri dianjurkan.
Ke depan, upaya mitigasi jangka panjang menjadi perhatian penting. Normalisasi sungai dan perbaikan drainase perlu dipercepat. Edukasi kebencanaan juga harus diperluas hingga tingkat desa.
Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa pekan mendatang. Oleh karena itu, kesiapsiagaan semua pihak menjadi kunci. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat meminimalkan dampak bencana.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa risiko hidrometeorologis meningkat saat musim hujan. Warga Lombok Tengah diharapkan terus memantau informasi resmi. Langkah cepat dan kewaspadaan kolektif dapat menyelamatkan banyak pihak.
Baca juga: “1.507 KK Terdampak, Lombok Tengah Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana”
