Sites and Sound – Lebih dari 300 orang tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu hujan deras selama dua hari di Pakistan. Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Khyber Pakhtunkhwa melaporkan 307 korban jiwa hingga Sabtu (16/8/2025) dini hari, dengan ratusan orang masih hilang di wilayah pegunungan. Peristiwa ini tercatat sebagai periode paling mematikan sepanjang musim hujan tahun ini.
Distrik Buner menjadi daerah yang paling parah terdampak. Terletak sekitar tiga setengah jam perjalanan dari Islamabad, wilayah ini melaporkan sedikitnya 184 korban meninggal. Hujan deras menghancurkan rumah, menumbangkan pohon, serta menyapu bersih lahan pertanian dan kebun buah. Infrastruktur jalan juga mengalami kerusakan parah, sehingga menghambat operasi penyelamatan dan distribusi bantuan.
“Baca Juga: Kuasa Hukum Warga Dikeroyok Saat Demo Pati Ricuh”
Pemerintah Pakistan mengalokasikan dana darurat untuk mempercepat proses evakuasi, membuka akses jalan yang terhalang, dan menyalurkan kebutuhan pokok. “Kami terus berupaya maksimal agar korban dapat segera tertolong,” ujar seorang pejabat lokal dalam pernyataannya. Organisasi kemanusiaan juga mulai turun ke lapangan guna memberikan bantuan medis dan logistik bagi warga terdampak.
Fenomena ini tidak hanya melanda Pakistan. Negara tetangga seperti India dan Nepal juga mengalami hujan ekstrem, banjir, serta runtuhnya bangunan dalam sepekan terakhir. Menurut data World Bank, Asia Selatan merupakan salah satu kawasan paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, dengan lebih dari 750 juta penduduk terpapar risiko banjir dan tanah longsor setiap tahun.
Bencana terbaru di Pakistan mempertegas perlunya sistem peringatan dini yang lebih efektif serta pembangunan infrastruktur tahan bencana. Para pakar iklim menilai intensitas curah hujan ekstrem akan terus meningkat seiring pemanasan global. Jika langkah mitigasi tidak segera diperkuat, risiko bencana serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi dan menimbulkan kerugian besar di masa depan.
Ratusan Korban Jiwa Akibat Banjir Bandang Pakistan, Pemerintah Kerahkan Tim Darurat
Banjir bandang yang melanda Pakistan semakin memprihatinkan. Di Distrik Buner, setidaknya 93 jenazah ditemukan, sementara ribuan warga, termasuk perempuan dan anak-anak, masih terjebak di wilayah tergenang. Kondisi ini diperburuk oleh terputusnya akses jalan dan derasnya arus air yang menghambat operasi penyelamatan.
“Baca Juga: Trump Putin di Alaska Gagal Akhiri Perang Ukraina”
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri, Ishaq Dar, menegaskan bahwa operasi penyelamatan melibatkan tim sipil dan militer. “Kami berduka atas kehilangan banyak keluarga. Ribuan orang kini tanpa rumah dan mata pencaharian,” tulis Dar dalam pernyataan di media sosial. Perdana Menteri Pakistan juga memimpin rapat darurat untuk memperkuat koordinasi penyaluran logistik, layanan kesehatan, dan evakuasi korban.
Menurut laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), Pakistan termasuk dalam 10 negara paling rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Data Bank Dunia juga menunjukkan lebih dari 30 juta warga Pakistan tinggal di wilayah rawan banjir, terutama di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa yang kini terdampak paling parah.
