Sites and Sound – Ribuan warga di perbatasan Kamboja dan Thailand mengungsi pada Senin (8/12/2025) setelah bentrokan baru meletus. Serangan udara dan tembakan silang menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk warga sipil dan tentara.
Kedua negara saling menuduh memicu kekerasan, yang menjadi konfrontasi terparah sejak gencatan senjata Juli lalu. Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menegaskan negaranya siap mempertahankan kedaulatan. Mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, menuduh Thailand memprovokasi serangan balasan.
Baca Juga: 72 Jalan 31 Jembatan Rusak Parah Akibat Bencana Sumatera
Sejak Mei 2025, ketegangan telah menewaskan lebih dari 40 orang, disertai larangan impor dan pembatasan perjalanan. Pada Senin, pasukan Thailand menanggapi tembakan Kamboja di Provinsi Ubon Ratchathani dengan serangan udara. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh Thailand menyerang Provinsi Preah Vihear terlebih dahulu.
Dampak konflik meluas ke sektor pendidikan. Sekitar 650 sekolah di lima provinsi Thailand ditutup untuk keamanan. Video di media sosial menunjukkan orang tua membawa anak-anak pulang dari sekolah di wilayah perbatasan. Serangan ini menimbulkan kepanikan di komunitas lokal dan memperparah krisis kemanusiaan.
Sengketa perbatasan sepanjang 800 km antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung lebih dari satu abad. Meskipun gencatan senjata ditegakkan pada Oktober 2025 dengan mediasi internasional, insiden terbaru menunjukkan bahwa ketegangan tetap tinggi dan upaya perdamaian menghadapi tantangan serius. Kedua negara masih harus mencari mekanisme jangka panjang untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.
Bentrokan Mematikan, Ancaman Lanjutan Konflik Kamboja-Thailand Picu Kekhawatiran Regional
Bentrokan terbaru di perbatasan Kamboja-Thailand meningkatkan risiko eskalasi konflik yang berdampak pada stabilitas regional. Ribuan warga mengungsi akibat tembakan dan serangan udara.
Para pejabat kedua negara menekankan kedaulatan mereka, tetapi tuduhan timbal balik menimbulkan ketegangan diplomatik serius. Pakar keamanan regional memperingatkan potensi konflik berkepanjangan.
Baca Juga: Netanyahu Sebut Tahap 2 Gencatan Senjata Gaza Segera Dimulai
Penutupan sekolah dan gangguan aktivitas ekonomi memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah perbatasan. Organisasi bantuan internasional mulai menyalurkan dukungan bagi pengungsi terdampak.
Gencatan senjata sebelumnya gagal mencegah kekerasan baru, meski ada mediasi oleh Malaysia dan pengawasan internasional. Analisis menunjukkan perlunya mekanisme verifikasi yang lebih kuat.
Negara-negara tetangga dan organisasi ASEAN didorong untuk memfasilitasi dialog damai jangka panjang. Upaya diplomasi harus fokus pada penegakan kedaulatan tanpa merugikan warga sipil.
