Sites and Sound – Israel Ancam Serang Negara Pelindung Pemimpin Hamas Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kemungkinan serangan lebih lanjut terhadap pemimpin Hamas di luar wilayah Palestina. Ia menyatakan tidak ada tempat yang aman bagi kelompok tersebut.
Pernyataan itu muncul ketika pemimpin negara Arab dan Islam bertemu mendukung Qatar. Pertemuan digelar setelah serangan Israel di Doha, 9 September 2025.
Dalam serangan tersebut, Israel menargetkan pimpinan Hamas yang berada di Qatar. Serangan menewaskan lima anggota Hamas dan satu agen keamanan Qatar. Namun, para pemimpin Hamas yang menjadi target utama berhasil selamat.
“Baca Juga: Trump Serang Kapal Kartel di Venezuela, 3 Tewas”
“Israel akan bertindak terhadap Hamas di mana pun mereka berada. Tidak ada perlindungan bagi mereka,” kata Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem.
Langkah militer ini menjadi eskalasi besar dalam konflik Israel dengan Hamas. Sebelumnya, serangan Israel lebih banyak terfokus pada wilayah Gaza. Kini, operasi meluas hingga ke negara Teluk.
Serangan ke Qatar memicu kecaman luas dari dunia internasional. Negara Arab menilai tindakan Israel melanggar kedaulatan dan memperburuk ketegangan regional.
Para analis menilai sikap Netanyahu menunjukkan strategi baru Israel menghadapi Hamas. Alih-alih hanya menyerang basis di Gaza, Israel menargetkan jaringan Hamas di luar negeri.
Ke depan, situasi kawasan diperkirakan semakin tegang. Jika Israel melanjutkan serangan, negara pelindung Hamas berpotensi terlibat konflik lebih luas.
Israel Ancam Serang Negara Pelindung Pemimpin Hamas, KTT Arab-Islam Desak Tinjau Hubungan dengan Israel di Tengah Eskalasi
Negara-negara Arab dan Islam menyerukan peninjauan ulang hubungan dengan Israel. Desakan ini muncul setelah serangan Israel ke Qatar dan meningkatnya kekerasan di Gaza.
Komunike akhir KTT yang dihadiri Iran, Turki, dan Arab Saudi tidak memuat bahasa keras dari draf awal. Draf tersebut menyinggung bahwa serangan Israel mengancam koeksistensi dan upaya normalisasi kawasan.
Namun, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dalam pernyataan terpisah menegaskan kebijakan agresif Israel merusak masa depan perjanjian yang ada. Mereka menilai tindakan itu menghalangi jalan menuju stabilitas regional.
“Baca Juga: Istri Polisi Ditemukan Tewas Tergantung di Rumah”
Asisten Sekretaris Jenderal Liga Arab, Hossam Zaki, menjelaskan seruan itu dimaksudkan bagi negara yang memiliki hubungan dengan Israel untuk meninjau kembali kerja sama diplomatik dan ekonomi.
Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, sekutu Amerika Serikat yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979, memperingatkan konsekuensi serius. Ia menyebut kebijakan Israel dapat membatalkan perjanjian yang ada dan menghambat peluang damai baru.
Sementara diplomasi berlangsung di Yerusalem dan Doha, situasi di Gaza terus memburuk. Pasukan Israel menyerang dua rumah dan sebuah tenda keluarga pengungsi, menewaskan setidaknya 16 warga sipil, menurut otoritas kesehatan setempat.
Eskalasi ini menambah tekanan internasional terhadap Israel. Para pengamat menilai jika agresi berlanjut, peluang rekonsiliasi kawasan semakin jauh, bahkan dapat memicu konflik lebih luas.
