Sites and Sound.org – Israel Gempur Lebanon pada Kamis (6/11/2025). Serangan terjadi setelah Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk desa-desa yang diduga menjadi basis kelompok bersenjata Hizbullah. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran eskalasi konflik di tengah gencatan senjata yang berlaku sejak setahun lalu.
Perintah evakuasi awal mencakup Aita al-Jabal, Al-Tayyiba, dan Tayr Debba, dengan jarak dari perbatasan Israel antara 4 hingga 24 km. Penduduk diminta menjauh 500 meter dari lokasi target. Evakuasi dibantu oleh pertahanan sipil Lebanon, sementara serangan udara dimulai sekitar satu jam setelah peringatan dikeluarkan.
Baca Juga: Penangkapan Jayainus Pogau, Komandan KKB Paling Dicari
Menurut juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, serangan bertujuan mencegah Hizbullah memulihkan kekuatan militernya. Shosh Bedrosian, juru bicara pemerintah Israel, menekankan bahwa operasi ini untuk menjaga keamanan perbatasan dan menegakkan gencatan senjata. Israel mengklaim tindakan ini sah sebagai langkah pertahanan.
Hizbullah menegaskan tetap mematuhi gencatan senjata, namun menekankan haknya menghadapi ancaman Israel. Wali Kota Tayr Debba, Farid Nahnouh, menyatakan situasi sangat berbahaya dan konsekuensi jangka panjang sulit diprediksi. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan satu korban tewas dan satu orang luka-luka akibat serangan.
UNIFIL dan militer Lebanon mengecam serangan sebagai pelanggaran terhadap resolusi PBB 1701. Kedua pihak diimbau menahan diri agar ketegangan tidak meningkat. Para pemantau internasional memperingatkan risiko konflik baru yang dapat merusak stabilitas di wilayah perbatasan Lebanon-Israel.
Dampak Israel Gempur Lebanon Stabilitas dan Warga Lebanon
Serangan udara Israel meningkatkan ketegangan politik dan sosial di Lebanon selatan. Penduduk setempat menghadapi risiko evakuasi mendadak dan gangguan aktivitas sehari-hari. Pakar keamanan regional menekankan bahwa tindakan militer semacam ini bisa memperpanjang ketidakstabilan di perbatasan.
Selain risiko fisik, serangan berdampak pada ekonomi lokal. Banyak usaha kecil di wilayah terdampak terpaksa berhenti sementara. Ahli ekonomi regional menyebut bahwa gangguan transportasi dan evakuasi menghambat perdagangan serta mengancam mata pencaharian warga setempat.
Baca Juga: Zohran Pria Ditangkap Usai Coba Serang Presiden Meksiko di Jalan
Dari sisi hukum internasional, UNIFIL dan organisasi HAM menekankan pentingnya mematuhi resolusi PBB 1701. Pelanggaran terhadap gencatan senjata dapat menimbulkan konsekuensi diplomatik. Para pakar hukum internasional menilai tindakan Israel harus sejalan dengan hukum humaniter internasional.
Di tingkat politik, serangan ini memicu perdebatan di parlemen Lebanon dan Israel. Pemerintah Israel menegaskan langkahnya sebagai tindakan pertahanan, sementara politisi Lebanon mengecamnya sebagai agresi. Analis politik menyatakan bahwa ketegangan bilateral dapat memengaruhi stabilitas regional lebih luas.
Masyarakat internasional terus memantau situasi. UNIFIL dan badan-badan internasional lainnya menyerukan de-eskalasi dan perlindungan warga sipil. Ahli keamanan global menekankan perlunya dialog diplomatik untuk mencegah konflik yang lebih luas di kawasan.
