Sites and Sound – Longsor Dahsyat Musnahkan Desa di Sudan, 370 Tewas menghantam Pegunungan Marra di Sudan Barat dan menewaskan sedikitnya 370 orang. Bencana ini meratakan desa Tarseen dan hanya menyisakan satu orang selamat.
Hujan deras berhari-hari memicu longsor pada Minggu, 31 Agustus 2025. Gerakan Pembebasan Sudan, kelompok bersenjata yang menguasai wilayah tersebut, menyatakan bahwa jumlah korban bisa mencapai 1.000 orang. Mereka mendesak PBB dan organisasi internasional segera mengirimkan bantuan.
Antoine Gérard, wakil koordinator kemanusiaan PBB untuk Sudan, menegaskan tantangan besar dalam penyaluran bantuan. Ia menjelaskan, medan sulit dan musim hujan membuat distribusi logistik terhambat. “Kami tidak memiliki helikopter, semua harus lewat jalur darat. Menyeberangi lembah bisa memakan waktu satu hingga dua hari,” ujarnya dikutip dari BBC.
“Baca Juga: 66 Perusuh di Bekasi Ditangkap, 23 Anak di Antaranya”
Wilayah Pegunungan Marra sebelumnya menjadi tempat perlindungan warga Darfur Utara. Mereka melarikan diri dari konflik berkepanjangan antara tentara Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Kini, penduduk yang sudah rentan kembali menghadapi krisis kemanusiaan akibat bencana alam.
Bencana longsor ini menambah deretan penderitaan rakyat Sudan yang masih terjebak dalam konflik bersenjata. Para pengamat memperingatkan bahwa kebutuhan bantuan darurat akan meningkat tajam. Dukungan internasional sangat diperlukan untuk menyelamatkan korban selamat dan memulihkan desa yang hancur.
Longsor Dahsyat Musnahkan Desa di Sudan Tarseen di Tengah Perang Saudara Sudan
Sebuah tanah longsor besar menghancurkan Desa Tarseen di wilayah Darfur, Sudan, menewaskan banyak warga dan memicu krisis kemanusiaan baru. Insiden ini terjadi saat wilayah tersebut masih dilanda perang saudara antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Gubernur Darfur yang berpihak pada tentara Sudan, Minni Minnawi, menyebut peristiwa ini sebagai “tragedi kemanusiaan.” Ia menyerukan bantuan internasional untuk segera dikerahkan karena bencana ini melampaui kapasitas penduduk lokal.
“Kami mengimbau organisasi kemanusiaan internasional untuk segera turun tangan… tragedi ini lebih besar daripada yang dapat ditanggung sendiri oleh rakyat kami,” katanya dalam pernyataan yang dikutip AFP.
Gambar dari lokasi kejadian menunjukkan dua parit besar di lereng gunung yang bertemu di dataran rendah. Tepat di dataran inilah Desa Tarseen sebelumnya berdiri, kini terkubur sepenuhnya oleh longsoran tanah. Jumlah korban masih belum pasti, namun pencarian korban terus berlangsung di tengah keterbatasan alat dan personel.
“Baca Juga: Trump Terlihat Botak, Publik Bertanya-Tanya Soal Kesehatan?”
Wilayah ini dikuasai oleh faksi Gerakan Pembebasan Sudan/Tentara (SLM/A), yang telah menyatakan dukungan kepada militer Sudan dalam konflik bersenjata melawan RSF. Kelompok ini kini juga terlibat dalam upaya penyelamatan dan penanganan korban.
Konflik Memperburuk Dampak Bencana
Perang saudara yang dimulai pada April 2023 telah melumpuhkan sistem pemerintahan dan layanan publik. Sebanyak 12 juta orang terpaksa mengungsi, dan laporan dari pejabat Amerika Serikat tahun lalu menyebut hingga 150.000 orang tewas.
Di Darfur Barat, RSF dan milisi sekutunya dituduh melakukan genosida untuk mengubah struktur etnis wilayah tersebut. Banyak warga setempat yakin mereka menjadi sasaran serangan sistematis yang bertujuan menciptakan dominasi kelompok Arab.
Krisis Berlapis Perlu Respon Global
Bencana tanah longsor di Darfur memperparah penderitaan rakyat yang sudah terjebak dalam konflik dan kelaparan. Pemerintah daerah, kelompok bersenjata, dan masyarakat sipil berjuang dengan sumber daya terbatas.
Tanpa intervensi cepat dari organisasi kemanusiaan internasional, risiko kematian dan penderitaan akan terus meningkat. Tragedi ini menjadi pengingat akan kebutuhan mendesak untuk solusi damai dan dukungan global bagi Sudan yang terpecah.
