SITESANDSOUND.ORG – Presiden Kamerun, Paul Biya, yang dikenal sebagai penguasa tertua di dunia, kembali memenangkan pemilihan umum untuk masa jabatan kedelapan pada Senin (27/10/2025). Kemenangan Biya memicu bentrokan antara pasukan keamanan dan pendukung oposisi di berbagai wilayah Kamerun.
Pendukung kandidat oposisi Issa Tchiroma Bakary melakukan protes di kota Douala, pusat ekonomi negara tersebut. Mereka memblokir jalan dengan puing-puing dan membakar ban, menolak hasil pemilu yang dinilai curang. Polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang mengenakan masker atau menutupi wajah.
Kekerasan Pascapemilu Meluas di Douala Presiden Tertua di Dunia
Ketegangan meningkat setelah hasil resmi menunjukkan Biya menang dengan 53,66 persen suara, sementara Tchiroma hanya memperoleh 35,19 persen. Protes meluas di Douala, di mana empat orang dilaporkan tewas akibat bentrokan selama akhir pekan.
Tchiroma menuduh pemerintah melakukan kecurangan dan menolak mengakui hasil tersebut. Melalui akun Facebook, ia mengklaim dua warga sipil tewas di luar rumahnya di Garoua akibat tembakan aparat. Reuters belum dapat memverifikasi laporan itu secara independen.
Baca Juga: Pembiayaan Ultramikro: Solusi Cerdas Kurangi Kemiskinan
Biya Serukan Perdamaian di Tengah Kekacauan
Dalam pernyataannya di platform X, Biya menyampaikan duka atas korban kekerasan pascapemilu. Ia mengatakan rakyat telah menaruh kembali kepercayaan padanya. “Pikiran saya tertuju pada mereka yang kehilangan nyawa akibat kekerasan tidak perlu,” tulis Biya.
Pemerintah Kamerun menolak tuduhan kecurangan dan meminta warga menghormati hasil resmi. Polisi antihuru-hara tetap berpatroli di Douala, sementara sebagian besar bisnis memilih tutup demi keamanan.
Empat Dekade Kekuasaan Tanpa Tanding Presiden Tertua di Dunia
Paul Biya telah memimpin Kamerun sejak 1982, menjadikannya salah satu pemimpin dengan masa jabatan terpanjang di dunia. Ia menghapus batasan masa jabatan presiden pada 2008 dan selalu menang besar dalam setiap pemilu.
Kamerun, negara penghasil minyak dan kakao, menghadapi stagnasi ekonomi dan meningkatnya ketidakpuasan publik. Meski begitu, Biya, yang kini berusia 92 tahun, akan tetap berkuasa hingga hampir berumur 100 tahun.
Seruan Perubahan dan Harapan Baru
Oposisi menilai rakyat Kamerun mendambakan perubahan setelah lebih dari empat dekade pemerintahan Biya. Bahkan Brenda Biya, putri presiden, sempat mengunggah video TikTok yang kini dihapus, meminta warga tidak memilih ayahnya.
Tchiroma, mantan juru bicara pemerintah yang kini menjadi oposisi, menarik banyak dukungan dari kelompok sipil. Transformasinya dari sekutu menjadi penantang Biya dianggap sebagai dinamika baru dalam politik Kamerun.
Kesimpulan
Kemenangan Paul Biya memperpanjang dominasi politiknya di Kamerun, namun juga memperdalam perpecahan nasional. Dengan usia yang menua dan tekanan publik yang meningkat, masa depan politik Kamerun kini bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga stabilitas dan membuka ruang bagi perubahan yang diinginkan rakyat.
