Rusia meluncurkan serangan bom ke sebuah koloni hukuman di wilayah Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, pada malam hari, menewaskan sedikitnya 17 orang. Serangan tersebut juga melukai puluhan tahanan lainnya, menurut keterangan resmi dari pejabat Ukraina.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan memperpendek tenggat waktu bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengambil langkah perdamaian. Pernyataan ini mempertegas tekanan internasional terhadap Moskow di tengah konflik yang terus berkecamuk.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuding Rusia telah melakukan serangan secara sengaja terhadap warga sipil. “Rusia tidak mungkin tidak menyadari bahwa mereka menargetkan warga sipil di fasilitas itu,” tulis Zelensky dalam unggahan di platform X, dikutip dari laporan Reuters.
“Baca Juga: Prabowo Melayat ke RSPAD, Hormati Kwik Kian Gie”
Zelensky menambahkan bahwa total korban jiwa akibat serangan semalam mencapai 22 orang. Termasuk di antara korban adalah seorang perempuan hamil berusia 23 tahun yang tewas akibat serangan rudal di sebuah rumah sakit di wilayah tenggara lainnya.
Pemerintah Ukraina mengecam serangan ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum kemanusiaan internasional. Mereka menuntut tanggapan tegas dari komunitas global, termasuk Dewan Keamanan PBB dan lembaga HAM internasional.
Sementara itu, Rusia belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut. Ketegangan antara kedua negara diprediksi akan terus meningkat, seiring eskalasi militer yang belum menunjukkan tanda mereda.
Serangan ini mempertegas bahwa korban sipil masih menjadi pihak paling rentan dalam konflik bersenjata. Komunitas internasional diharapkan segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan kekerasan dan mendorong proses perdamaian.
Rusia Tingkatkan Serangan Udara, Penjara Ukraina Hancur, Puluhan Luka
Rusia terus meningkatkan intensitas serangan udara jauh di belakang garis depan, saat invasi ke Ukraina memasuki tahun keempat. Serangan terbaru menghantam sebuah penjara di Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, dan menghancurkan ruang makan fasilitas tersebut.
Kementerian Kehakiman Ukraina mengonfirmasi bahwa serangan itu melibatkan empat bom udara berkekuatan tinggi. Akibatnya, ruang makan penjara hancur total dan bagian lain dari bangunan mengalami kerusakan parah. Serangan ini juga menyebabkan 42 orang terluka, sebagian besar di antaranya adalah tahanan.
Peningkatan serangan ini terjadi di tengah kemajuan militer Rusia yang terus bergerak maju di medan perang. Serangan udara seperti ini memperluas cakupan konflik hingga wilayah-wilayah yang sebelumnya dianggap relatif aman.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ketidaksabarannya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam pernyataan pada Senin (28/7/2025), Trump menegaskan bahwa Rusia hanya memiliki waktu 10 hingga 12 hari untuk menunjukkan kemajuan dalam upaya perdamaian
“Baca Juga: Gempa M8,8 Guncang Rusia, Jepang Diterjang Tsunami”
Pihak Rusia dan Ukraina sama-sama menyangkal telah menargetkan warga sipil dalam berbagai serangan mereka. Namun, kenyataannya ribuan warga sipil, terutama dari pihak Ukraina, telah menjadi korban sejak awal invasi pada 2022.
Serangan di penjara ini memperpanjang daftar panjang fasilitas sipil yang terkena dampak konflik. Ukraina kembali meminta dukungan komunitas internasional untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur non-militer.
Konflik yang berlarut-larut ini menunjukkan bahwa eskalasi militer terus terjadi. Tanpa langkah diplomatik yang kuat, korban sipil dikhawatirkan akan terus bertambah.
