Sites and Sound – Spanyol menghadapi krisis lingkungan besar setelah 20 kebakaran hutan melanda wilayahnya pada Minggu (17/8/2025). Pemerintah segera mengerahkan tambahan 500 tentara dari unit darurat militer sehingga total pasukan mencapai 1.900 personel. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat operasi pemadaman yang terkendala suhu ekstrem dan angin kencang.
Di Galicia, kawasan barat laut Spanyol, beberapa titik api bergabung membentuk kobaran raksasa. Dampaknya, jalur kereta api dan sejumlah ruas jalan raya terpaksa ditutup demi keselamatan warga. Situasi ini menambah daftar panjang bencana musim panas di Eropa Selatan, yang tahun ini disebut sebagai salah satu musim kebakaran hutan terburuk dalam 20 tahun terakhir.
“Baca Juga: Lamborghini Ngebut di Tol Kunciran Berujung Kecelakaan”
Dalam sepekan, kebakaran di Spanyol telah menewaskan tiga orang dan menghanguskan lebih dari 115.000 hektar lahan. Angka ini hampir setara dengan luas gabungan kota Madrid dan Barcelona. Di Portugal, negara tetangga, kobaran api juga meluas sehingga menambah beban kawasan yang sebelumnya sudah rentan akibat gelombang panas berulang.
“Masih ada beberapa hari penuh tantangan di depan, dan sayangnya cuaca tidak berpihak pada kita,” ujar Perdana Menteri Pedro Sanchez dalam konferensi pers di Ourense, salah satu daerah paling terdampak. Ia menekankan bahwa dukungan militer, pemadam kebakaran, dan relawan lokal akan terus diperkuat untuk melindungi warga.
Kebakaran besar ini memperlihatkan dampak nyata perubahan iklim di Eropa selatan. Laporan Badan Lingkungan Eropa (EEA) sebelumnya mencatat tren kenaikan suhu yang memperburuk risiko kebakaran setiap musim panas. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa mitigasi serius, frekuensi dan intensitas kebakaran akan semakin meningkat di masa depan.
Dengan situasi yang belum menunjukkan tanda mereda, pemerintah Spanyol kini menyiapkan langkah darurat lanjutan, termasuk evakuasi massal bila api mendekati pemukiman. Warga diimbau tetap siaga, sementara dunia internasional memandang krisis ini sebagai peringatan nyata akan urgensi aksi iklim global.
SUHU EKSTREM PERBURUK PEMADAMAN KEBAKARAN HUTAN DI SPANYOL DAN PORTUGAL
Spanyol dan Portugal tengah menghadapi musim kebakaran hutan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Suhu ekstrem di Eropa selatan membuat pemadaman semakin sulit, sementara luas lahan terbakar terus bertambah.
Direktur Jenderal Layanan Darurat Spanyol, Virginia Barcones, mengatakan kondisi cuaca saat ini “sangat buruk” dengan suhu tinggi dan risiko kebakaran ekstrem. Ia memperkirakan penurunan suhu baru akan terjadi pada Selasa mendatang. Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat 27 orang ditangkap dan 92 orang lainnya diselidiki terkait dugaan pembakaran sejak Juni. Data ini memperlihatkan adanya faktor manusia yang memperburuk bencana alam.
Di Portugal, kebakaran telah menghanguskan sekitar 155.000 hektar vegetasi sepanjang tahun ini. Laporan dari lembaga perlindungan kehutanan ICNF menunjukkan jumlah tersebut tiga kali lipat rata-rata periode 2006–2024. Bahkan, setengah dari total area terbakar hanya dalam tiga hari terakhir. Ribuan petugas pemadam kebakaran kini berjuang melawan delapan kebakaran besar di wilayah tengah dan utara. Salah satunya berada di dekat Piodao, daerah pegunungan yang terkenal sebagai destinasi wisata. Api juga melanda Trancoso selama delapan hari berturut-turut, menewaskan satu warga setempat pada Jumat lalu.
“Baca Juga: Ukraina-Rusia Tawarkan Kesepakatan Akhiri Perang Ukraina”
Menurut laporan European Forest Fire Information System (EFFIS), tren kebakaran hutan di kawasan Mediterania meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Faktor utama adalah perubahan iklim yang menyebabkan musim panas lebih panjang, gelombang panas lebih sering, serta kelembaban rendah yang mempercepat penyebaran api. Uni Eropa juga mencatat peningkatan biaya penanggulangan kebakaran hingga miliaran euro setiap tahunnya.
Situasi di Spanyol dan Portugal menjadi pengingat serius bahwa mitigasi iklim dan pengelolaan hutan berkelanjutan semakin mendesak. Pemerintah kedua negara kini memperkuat koordinasi darurat, memperluas evakuasi, dan mendorong kerja sama internasional untuk mengatasi bencana yang diprediksi akan terus berulang di masa depan.
