Sites and Sound – Taliban Memutus Layanan Internet dan telepon seluler di Afghanistan terhenti total pada Selasa (30/9/2025). Warga dan lembaga pemantau melaporkan tidak adanya akses komunikasi, sementara pemerintah Taliban belum memberikan penjelasan resmi mengenai keputusan ini. Pemutusan tersebut memutus jalur utama komunikasi masyarakat dengan dunia luar.
Gangguan ini berdampak luas pada aktivitas harian. Layanan penting seperti perbankan digital, transaksi pembayaran, serta akses pendidikan daring ikut terganggu. Banyak perempuan dan anak perempuan yang sebelumnya mengandalkan kelas daring kini kehilangan satu-satunya jalur pendidikan. Situasi ini menambah keterbatasan ruang belajar yang sudah mereka hadapi di bawah aturan Taliban.
Seorang warga Kabul menyebut bandara internasional hampir kosong. Tidak terlihat pesawat datang maupun berangkat, menambah kesan Afghanistan terisolasi dari dunia. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi dan sosial di tengah krisis yang terus berlangsung.
“Baca Juga: Kisah Mulyono, Dukun PKI Sakti yang Tewas di Kopassus”
Sebelumnya, Taliban telah mengungkapkan kekhawatiran atas pornografi daring. Otoritas juga memutus sambungan serat optik ke sejumlah provinsi dengan alasan moralitas. Namun, pemutusan internet secara nasional kali ini menimbulkan dampak lebih luas, menutup seluruh jalur komunikasi masyarakat.
Langkah Taliban memicu pertanyaan besar mengenai arah kebijakan komunikasi negara itu. Pemutusan jaringan internet berpotensi memperdalam isolasi Afghanistan dari komunitas internasional. Situasi ini juga menambah beban warga yang bergantung pada teknologi digital untuk pendidikan, perdagangan, dan akses informasi. Tanpa kejelasan dari pemerintah, masa depan akses komunikasi di Afghanistan masih diselimuti ketidakpastian.
Taliban Memutus Layanan Internet, Taliban Perketat Kontrol Internet, Hak Perempuan Afghanistan Kian Terbatas
Konektivitas internet di Afghanistan anjlok hingga tersisa 1%, menurut laporan NetBlocks, organisasi pemantau akses internet global. Pemutusan akses ini memperkuat isolasi digital dan memperparah kesulitan hidup warga, terutama perempuan yang bergantung pada internet untuk bekerja dan belajar.
Kebijakan pembatasan semakin ketat di bawah pimpinan Taliban yang berbasis di Kandahar. Bulan ini, otoritas melarang perempuan yang bekerja di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memasuki kantor. Sebelumnya, aturan serupa melarang perempuan bekerja di banyak sektor dan menutup akses pendidikan menengah atas bagi anak perempuan.
“Baca Juga: China Hukum Mati 11 Anggota Mafia Penipuan Myanmar”
Taliban menyatakan tetap menghormati hak perempuan, namun sesuai dengan interpretasi mereka terhadap hukum Islam. Dalam praktiknya, pembatasan semakin meluas. Aktivis hak perempuan Sanam Kabiri menyebut Taliban telah menutup sekolah, universitas, serta fasilitas rekreasi dan olahraga khusus perempuan.
Akibat larangan itu, banyak perempuan meninggalkan pekerjaan di luar rumah dan beralih menggunakan internet sebagai jalur bertahan. Beberapa di antara mereka mengandalkan koneksi daring untuk mendapatkan pekerjaan jarak jauh, meski kini akses pun hampir sepenuhnya terputus.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi masa depan perempuan Afghanistan. Dengan internet yang hampir hilang, kesempatan untuk belajar, bekerja, atau sekadar berinteraksi dengan dunia luar semakin tertutup. Jika pembatasan ini berlanjut, perempuan berisiko kehilangan ruang hidup yang sebelumnya masih bisa dipertahankan lewat teknologi digital.
