sitesandsounds.org – Para pemimpin Thailand dan Kamboja menandatangani kesepakatan gencatan senjata yang diperluas pada Minggu (26/10/2025) di hadapan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Perjanjian ini merupakan kelanjutan dari gencatan senjata yang sebelumnya disepakati tiga bulan lalu, setelah Trump menelepon kedua pemimpin untuk mencegah eskalasi konflik.
Pertukaran roket dan artileri berat selama lima hari sebelumnya menewaskan sedikitnya 48 orang dan memaksa sekitar 300 ribu warga mengungsi sementara. Kedua pihak saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan,
Komitmen Perdamaian dan Stabilitas Regional
Trump menekankan peran Amerika dalam mencegah eskalasi konflik dan memuji keberanian kedua pemimpin.
“Kami hanya melakukan kesepakatan dan melaporkannya. Semua orang agak kagum bahwa kami menyelesaikannya begitu cepat,” kata Trump dalam upacara di sela KTT ASEAN di Kuala Lumpur.
Trump menambahkan bahwa gencatan senjata yang ditengahi AS telah menyelamatkan jutaan nyawa, tanpa keterlibatan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Penarikan Senjata Berat dan Pembebasan Tawanan Thailand-Kamboja Sepakat Gencatan Senjata
Thailand berjanji membebaskan 18 tawanan perang Kamboja jika langkah-langkah tersebut dijalankan. Kedua negara juga sepakat berkoordinasi dalam pembersihan ranjau darat, pemicu awal konflik setelah seorang tentara Thailand terluka.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan deklarasi itu mencerminkan keinginan menyelesaikan perbedaan secara damai dengan menghormati kedaulatan masing-masing. Sementara Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menekankan pentingnya menyelesaikan konflik secara damai, sekulit atau serumit apa pun perbedaan yang ada.
menghormati kedaulatan, serta meningkatkan stabilitas regional. Keberhasilan diplomasi ini juga menegaskan peran mediasi internasional, khususnya AS, dalam mencegah eskalasi konflik yang menimbulkan korban jiwa dan pengungsian massal.
Pandangan ke Depan
Kesepakatan ini menjadi prestasi diplomatik bagi Trump, yang tahun ini aktif menengahi konflik global, termasuk di Gaza, Armenia-Azerbaijan, dan India-Pakistan. Pihak berwenang berharap gencatan senjata ini memberi stabilitas di perbatasan dan menjadi contoh penyelesaian sengketa tanpa kekerasan di kawasan ASEAN.
Kesimpulan:
Kesepakatan gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja di hadapan Presiden Donald Trump berhasil menghentikan konflik bersenjata di perbatasan, termasuk penarikan senjata berat dan pembebasan tawanan perang. Langkah ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk menyelesaikan perselisihan secara damai, menghormati kedaulatan, serta meningkatkan stabilitas regional.
Selain itu, deklarasi ini membuka peluang untuk kerja sama jangka panjang, termasuk pembersihan ranjau darat dan koordinasi keamanan perbatasan. Kesepakatan ini menjadi contoh penyelesaian sengketa melalui dialog dan diplomasi, sekaligus memperkuat posisi ASEAN dalam mendukung perdamaian regional.
