Sites and Sound – Trump Setujui Hamas untuk Mengawasi Keamanan di Gaza Presiden Amerika Serikat memberi lampu hijau kepada Hamas untuk menjaga keamanan di Gaza sementara gencatan senjata dengan Israel berlangsung. Keputusan ini muncul di tengah konflik internal Hamas dengan kelompok-klompok yang berafiliasi dengan klan lokal di Kota Gaza.
“Baca Juga: Pernikahan Kakek di Pacitan Heboh, Mahar Rp3 Miliar Bermasalah”
Sejak gencatan senjata diberlakukan Jumat lalu, Hamas secara bertahap mengirim pasukan ke jalan-jalan Gaza. Mereka bergerak hati-hati untuk mencegah eskalasi, menurut dua sumber keamanan setempat, melansir Reuters, Selasa (14/10/2025). Senin lalu, Hamas menurunkan anggota Brigade Qassam saat membebaskan sandera terakhir yang ditawan Israel selama dua tahun.
Video viral menunjukkan puluhan pejuang Hamas berbaris di sebuah rumah sakit di Gaza selatan. Beberapa mengenakan lencana “Unit Bayangan,” yang bertugas menjaga sandera. Sumber keamanan mengatakan sejak gencatan senjata, pasukan Hamas menewaskan 32 anggota geng lokal, sementara enam personel Hamas tewas. Rekaman lain memperlihatkan pria bersenjata menembaki tujuh orang di jalan, yang warga sebut sebagai “kolaborator.” Reuters belum dapat memverifikasi tanggal atau lokasi video tersebut.
Trump Setujui Rencana dan Peran Sementara Hamas
Trump menjelaskan Hamas diberi izin sementara untuk mengawasi keamanan Gaza.
“Mereka ingin menghentikan masalah dan kami memberi persetujuan jangka waktu tertentu,” ujar Trump.
Kepala Kantor Media Hamas, Ismail Al-Thawabta, menekankan kelompok itu tidak akan membiarkan kekosongan keamanan. Hamas siap menyerahkan persenjataannya ke negara Palestina di masa depan dan menolak peran langsung dalam pemerintahan, kecuali disetujui warga Palestina.
Rencana Trump mencakup Gaza yang didemiliterisasi dan dikelola komite Palestina di bawah pengawasan internasional, termasuk misi stabilisasi yang melatih kepolisian Palestina.
Konflik Internal dan Tantangan Hamas
Hamas menghadapi tantangan internal dari klan-klan yang berselisih, beberapa dilaporkan menerima dukungan Israel. Di Kota Gaza, Hamas berkonflik dengan klan Doghmosh, sementara klan lain seperti Yasser Abu Shabab beroperasi di Rafah.
Pejabat keamanan Gaza menyatakan selain bentrokan di Kota Gaza, pasukan Hamas menargetkan “tangan kanan” Abu Shabab, sementara upaya untuk menangkap pemimpin klan masih berlangsung. Analis Palestina Reham Owda menilai tindakan Hamas bertujuan menghalangi kelompok yang bekerja sama dengan Israel sekaligus menegaskan posisi petugas keamanan dalam pemerintahan baru.
Pandangan ke Depan
Meskipun Hamas mendapat persetujuan sementara dari Trump, ketegangan internal tetap tinggi. Keamanan di Gaza masih rapuh, dan kelompok anti-Hamas menolak legitimasi peran mereka. Pengamat menekankan perlunya penyelesaian politik jangka panjang untuk mengurangi konflik dan menstabilkan wilayah, termasuk pengawasan internasional dan penguatan kepolisian Palestina.
